Transfer Pemain dengan Bosman Ruling dalam Sepak Bola


Transfer Pemain dengan Bosman Ruling dalam Sepak Bola

Didapat dari beberapa sumber dan telah dirangkum oleh Agensportsbookqq101.com Agen Sportsbook Online dan Taruhan Olahraga Terpercaya Indonesia mengatakan bahwa Bosman Ruling atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Peraturan Bosman adalah sebuah peraturan yang diresmikan pada tahun 1995.

Peraturan ini meliputi transfer pemain dari satu klub ke klub lainnya saat masa kontrak pemain tersebut sudah habis dan pemain bersedia dibeli oleh klub lain. Dalam proses transfer ini digunakan peraturan Bosman. Syarat-syarat peraturan Bosman adalah sebagai berikut:

Transfer Pemain dengan Bosman Ruling dalam Sepak Bola

  • Dilarang menetapkan harga transfer kepada pemain yang telah menyelesaikan kontrak. Namun sebelumnya, klub memperoleh hak kompensasi dari transfer pemain tersebut dan memiliki wewenang untuk mengganjal perpindahan pemain itu ke klub yang lain. 
  • Klub tidak memiliki hak untuk menahan seorang pemain dengan masa kontrak yang telah kadaluarsa demi kompensasi. Ketika pemain telah menghabiskan masa kontraknya maka ia digolongkan menjadi pemain berjulukan “bebas transfer”. Kompensasi untuk klub lama tidak akan terjadi meskipun pemain tersebut dikemudian hari menAndatangai kontrak jutaan dolar dengan klub baru. 
  • Menolak adanya batasan pemain asing yang diberikan ijin untuk ikut bermain dalam liga dalam Negara-negara Eropa seperti yang diberlakukan UEFA.

Awal mula terciptanya aturan Bosman ini bisa ditinjau lagi dari tragedy Jean-Marc Bosman. Tragedi ini cukup besar dampaknya hingga dunia bola professional. Sekitar tahun 1990, kontrak milik  Bosman dengan FC Liege berakhir.

Bosman saat itu berusaha mencari klub baru. Hasilnya, klub asal Perancis, Dunkrik, bermnat untuk membelinya. Kabar buruknya, klub lama Bosman yakni FC Liege menolak Dunkrik dan menetapkan sejumlah harga untuk Bosman, sehingga kepindahan Bosman ke Dunkrik tidak pernah terwujud. Ketika hal ini terjadi, Bosman justru dipaksa untuk bermain dalam tim muda dengan gaji yang dipotong. Akhirnya, karena geram, Bosman melaporkan permasalahan ini pada tahun 1995 ke Mahkamah Uni Eropa. Beberapa keputusan pun akhirnya dibuat. Yakni:

  • Klub lama tidak lagi memiliki hak untuk menetapkan harga bagi pemain-pemain yang kontraknya sudah berakhir. 
  • Semua klub diizinkan untuk membeli pemain dari Negara UE lainnya sebanyak yang mereka inginkan tanpa batas-batas tertentu.

Dengan munculnya aturan Bosman, mulailah banyak pemain-pemain asing yang bermain di Liga Eropa. Liga yang terlihat jelas memanfaatkan aturan ini dengan sebaik-baiknya adalah liga Inggris. Hal tersebut bisa dilihat di Arsenal dan Chelsea yang mana tim utama mereka tidak memiliki pemain local pada tahun 90 an.

Selain itu, setiap klub-klub besar Eropa yang memiliki pemain berkualitas tinggi berlomba-lomba menyiapkan kontrak baru jauh sebelum kontrak lama sang pemain habis, kontrak baru pun dibuat dengan bayaran yang sangat tinggi dan jangka waktu kontrak yang lebih lama.

Hal tersebut tentunya menguntungkan para pemain, namun tidak begitu memberikan keuntungan bagi klub-klub kecil dengan dana minim. Mereka kesulitan mencari cara mempertahankan pemain mereka.

Sebelum aturan Bosman ini dikeluarkan oleh Mahkamah Uni Eropa, bahkan sebelum tragedy Bosman terjadi, di Eropa, pemain tidak memiliki hak pribadi untuk berindah klub. Perpindahan baru bisa terjadi ketika kedua klub sepakat untuk menyetujuinya.

Hal ini tetap berlaku meskipun kontrak pemain tersebut telah habis. Hal ini tentunya terlihat sangat tidak adil untuk pemain. Ketika kontrak kerja sudah berakhir, lalu mengapa klub lama masih mengatur pergerakan pemain tersebut? Sampai-sampai menetapkan biaya transfer yang melambung tinggi.

Ditambah lagi, sebelum aturan Bosman dilahirkan, sebuah klub hanya diperbolehkan untuk memasukkan tiga warga Negara asing dalam sebuah liga. Setelah muncul Aturan Bosman, kedua hal tersebut dihapuskan.

Aturan Bosman ini jika dilihat dari sudut pAndang pemain, maka sangat menguntungkan. Karena mereka akhirnya dapat memiliki gaji yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan mereka bermain bola. Namun, jika dilihat dari sudut pAndang klub, aturan ini agak tidak menguntungkan.

Pasalnya seperti kasus yang terjadi pada Arsenal ketika ia tidak mampu menahan pemain-pemain terbaiknya, ia terpaksa harus kehilangan macam Fabregas dan Van Persie, karena mereka lebih memilih klub yang mau membayar mereka lebih tinggi.

Jadi, dapat disimpulkan dengan adanya Aturan Bosman ini, ada keuntungan dan kerugian yang diperoleh pihak pemain maupun pihak klub. Meskipun begitu, Bosman sendiri yang menjadi penyebab adanya aturan ini tidak bisa merasakan keuntungan yang ia lahirkan.

Berikutnya untuk pembaca juga bisa menyimak informasi lain yang tidak kalah menarik nya dalam penyampaian informasi sebagai berikut

  • Agar Anda Tetap Aman Saat Bermain Judi Online
  • Informasi Sepak Bola EPL Terbaru
  • Daftar Games Free Populer Di Android

 

 

Posted in BERITA OLAHRAGA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*